Kamis, 05 Maret 2009

Islam dan Budaya Minang

Islam dan Budaya Minang: Suatu Kebutuhan Dalam Menatap Masa Depan 

1. PENDAHULUAN

Dewasa ini, tema pluralisme multietnik hampir mendominasi pertemuan ilmiahbidang sosial budaya. Dengan demikian mengangkat kembali tema agama dan adattidak layak lagi dicap sebagai menegakkan benang basah. Namun sebagai agamadan etnisitas, ia tetap saja dipandang sebelah mata, khususnya oleh yangbergama lain dan berpandangan modernisasi. Maka budaya Minangkabau(indigenous cultural heritage) dan agama sebagai kekayaan dan ciri khasmasyarakat Sumatra Barat perlu dijelaskan betapa ia tetap aktual dalamperjalanan hidup manusia dan masyarakat modern.
Ajaran Islam adalah pandangan dan jalan hidup (philosophy and way of live)yang diajarkan oleh Tuhan Pencipta alam dan manusia yang lebih tahu tentangmakhluk ciptaan-Nya itu sendiri. Di antara pandangan Islam terhadap manusiasebagai ajaran (teologis) adalah bahwa manusia merupakan makhluk fisik,ruhaniah, rasional, sosial, dan bertuhan kepada Allah. Pandangan secarateologis ini biasa saja berbeda, bahkan berlawanan dengan Islam secarasosiologis, seperti berbagai aliran eksekutif yang ditemukan dalam fenomenasosial dan sejarah Islam (Agus 2003).
Tetapi kalau dipelajari agama dan adat dari segi ajaran agama, dari segiideal, das sollen, segi teologis, ia sebenarnya merupakan kebutuhan manusiadan penting untuk dapat mempertahankan manusia sebagai manusia danmasyarakat yang bermakna dan bermartabat. Tanpa ajaran Islam dan adatMinangkabau yang menekankan pentingnya berjamaah, berkeluarga, seiya setida,dan berpedoman kepada agama, manusia Minang bisa saja berubah menjadi ibaratpasir di tepi pantai, ibarat buih di atas air bah, seperti hewan, bahkanlebih hina daripadanya, tidak berubah menjadi malaikat.
Makalah ini melihat agama, khususnya Islam, dan budaya Minangkabau sebagaipotensi konstruktif. Islam dari segi ajaran bertujuan untuk menciptakan“kerahmatan bagi segenap penghuni alam semesta” (Q.S. al-Anbiya`: 207). Disamping itu juga ia merupakan kebutuhan manusia.

2. ISLAM dan BUDAYA MINANG DALAM CITA

Islam dalam makalah ini harus dibedakan antara Islam sebagai ajaran (Islamteologis) dan Islam sebagai realita sosial (Islam sosiologis). PembicaraanIslam dalam cita adalah Islam sebagai ajaran dari Allah yang tidak terlaludipengaruhi oleh penafsiran sepihak. Islam sosiologis adalah sebenarnyakondisi realita umat Islam yang biasa dan bisa saja berbeda seperti siangdan malam dengan ajaran Islam (Agus 2003).
Yang dimaksud dengan budaya Minangkabau dalam makalah ini adalah pandanganhidup, nilai-nilai filosofis, aturan dan tata kehidupan bermasyarakat.Ajaran tentang moral dan prinsip kehidupan diambil dan dikemukakan denganmengambil perumpamaan dari gejala alam dan kehidupan. Pandangan hidupseperti roda pedati, sekali ke atas sekali ke bawah; pakailah ilmu padi,makin berisi makin runduk; bersifatlah mampu menyesuaikan diri di mana punberada, tiba di kandang kambing membebek, tiba di kandang kerbau menguek;musyawarah untuk mufakat seperti kayu bersilang dalam tungku untuk memasaksesuatu adalah contoh pandangan hidup dan sifat yang harus ditanamkan dalamkehidupan sehari-hari. Dengan memperhatikan masyarakat lebah, pembagiantersebut makin jelas. Ada yang berfungsi seperti ratu (agaknyo bundokanduang); ada yang berfungsi sebagai pekerja, ada yang berfungsi sebagaitentara dan seterusnya. Pelajaran dari masyarakat lebah juga selalu memberimanfaat kepada manusia, tetapi jangan diganggu. Di Minangkabau pemahaman danpelajaran yang diambil dari gejala alam dan kehidupan makhluk ini dikenaldengan alam takambang jadi guru.
Alam takambang jadi guru adalah suatu metode untuk mengembangkan aturanbermasyarakat yang sejalan dengan hukum alam dan kehidupan. Untuk memahamigejala alam itu digunakan semua potensi yang dimiliki manusia, yaitupengamatan pancaindera, pemikiran otak, rasa dan hati nurani. Memberdayakansegenap potensi yang dimiliki ini dikenal dengan raso jo pareso. Dengandemikian masyarakat Minang tidak terjebak kepada kecenderungan memberdayakanhanya pada salah satu potensi tersebut.
Masyarakat Minangkabau yang adatnya dicetuskan oleh Dt. Ketumanggungan danDt. Perpatih nan Sabatang tidak menolak kedatangan agama-agama besar dunia.Sebelum Islam datang, Hindu dan Budha pernah berkembang dan menjadipandangan hidup dan budaya masyarakat. Diterimanya agama Hindu dan Budhakarena prinsip sumber daya yang dimiliki dan akan diberdayakan tidakdemikian kontradiktis dengan sumber daya manusia menurut adat Minangkabau.Raso jo pareso adalah daya spiritual. Sopan santun dan perilaku baikterhadap orang lain juga sama-sama mendapat perhatian dari adat Minangkabaudan agama Hindu Budha.
Dengan kedatangan agama Islam, orang juga dapat menerimanya walaupun tradisidan kepercayaan animisme dan adat-adat yang tidak baik tidak sejalan denganajaran Islam, seperti menyabung ayam, berjudi, dan meminum minuman kerastetap berlangsung. Sebenarnya perilaku menyabung ayam, judi dan minumankeras, menurut hemat penulis, tidaklah termasuk adat Minangkabau. Itu hanyaperilaku menyimpang dari masyarakat (deviant). Akal sehat, hati nurani, rasojo pareso, dan alam takambang mengajarkan perilaku tersebut dapat merugikandiri sendiri dan masyarakat. Proses Islamisasi tidak berjalan mulus. NamunIslam sebagai indetitas etnis semakin kuat, apalagi setelah perang Paderi.Adat basandi syara` syara` basandi kitabullah ( ABSSBK) telah menjadiidentitas etnis suku Minangkabau.
Masuknya agama Islam ke Minangkabau tidak merombak semua nilai, pandangandan prinsip hidup masyarakat. Pandangan dan nilai luhur kehidupan tetapdipelihara. Perilaku menyimpang memang ditentang. Islam memperkukuh prinsipalam takambang jadi guru. Kecendrungan dalam gejala alam (yang dalam duniailmiah dinamakan teori) dan hukum alam dan kehidupan manusia, oleh Islamdinamakan sunnatullah atau ayat-ayat Allah. Kepercayaan animisme dandinamisme ditukar dengan kepercayaan kepada makhluk gaib seperti jin daniblis, tetapi semuanya itu tidak ada yang memberi manfaat dan mudharat bagiyang punya keimanan yang kuat kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.Tanggung jawab Mamak dan Kemenakan diperkuat dengan tanggung jawab ayahkepada anak. Matriarkhat Minangkabau diperkuat dan diperdalam denganpatriarkhat yang dibawa oleh dari Islam sehingga kekerabatan dalam praktekmenjurus kepada bilateral. Maka, Islam sebagaimana juga ideologi dan budayapendatang lainnya, mula-mula dicurigai dan dimusuhi, kemudian ditolerir, danakhirnya diterima dan disepakati untuk diintegrasikan dengan adat sehinggasampai kepada adagium ABSSBK.
Adat dan budaya yang mementingkan alam takambang jadi guru serta sopansantun sehingga orang Minang harus tahu di nan-ampek (tahu kata mendaki,kata mendatar, kata menurun dan kata melereng) pada hakekatnya adalahpandangan pentingnya memperdayakan pancaindera, akal, dan perasaan sertahati nurani dalam memahami alam dan kehidupan. Pemberdayaan potensi-potensimanusia ini diperkokoh oleh Islam. Islam menyuruh menggunakan mata, telingadan mata hati (qulub) serta menyuruh menggunakan pedoman yang berupa agamadan petunjuk Allah untuk umat manusia. Petunjuk Allah yang dinamakan agamaitu mementingkan keyakinan (iman, aqidah), perilaku nyata sehari-hari(syari`ah), perasaan ruhaniah (tasauf), dan pemahaman otak tentang segalayang dihadapi. Inilah yang dinamakan dengan pendekatan terpadu (tauhid) yangdiajarkan oleh Islam agama Allah ini (Agus 1993).
Pedoman dan pendekatan wahyu penting diperhatikan supaya sumber daya manusiajangan tergelincir kepada yang membinasakan manusia dan alam lingkungannya.Pandangan materialisme, sekularisme, individualisme, hedonisme dan nihilismedilahirkan oleh otak manusia yang tidak mau lagi memperhatikan petunjukwahyu dan agama, bahkan daya yang dimiliki manusia sendiri, yaitu hatinurani dan perasaan luhur.
ABSSBK merupkan political will yang kalau diterapkan akan punya dayafleksibilitas dan dinamis serta prinsip-prinsip yang akan menjamin eksitensimanusia tetap sebagai manusia, yaitu makhluk yang bermoral dan regelius.Pengitegrasian ini penting diperdayakan untuk menghadapi tantangan kehidupanmodern dan arus globalisasi.

3. Agama dan Masyarakat Minang dan Realita

Dewasa ini kita dapat mendefinisikan agama sebagai fenomena sosial adalahkeyakinan-keyakinan yang dianut secara fanatik (Agus, 2003: 68-72). Agamadan etnisitas, termasuk Islam dan budaya Minang, secara sosiologis, dianutsecara fanatik. Kefanatikan itu akan terlihat dari indikasi kalau ada yangmenyinggung sesuatu yang difanatiki itu, pemiliknya akan melakukan tindakananarkis. Agama ada yang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan anarkisdan teror. Oleh karena itu, agama atau sesuatu yang di”agama”kan mengandungpotensi konstruktif dan juga destruktif. Karena hanya potensi, tenaga atausemangat, maka terserah kepada masyarakat pengemban kedua potensi itu,apakah akan dipergunakan kepada yang konstruktif atau destruktif. Teori danteknologi atom misalnya dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dandapat pula untuk dijadikan bom yang telah menghancurkan. Ke arah yang manaakan digunakan potensi itu tergantung kepada manusia yang memilikinya, dandalam hal agama dan etnisitas, tergantung kepada kelompok pengembankeyakinan tersebut dan juga perlakuan kelompok lain penganut “agama” yangbersangkutan. Kalau kelompok lain memperbuat sesuatu yang menyinggungkehormatan penganut agama dan etnis tertentu, tentu potensi konstruktif ituakan segera berubah menjadi potensi “destruktif “.
Di samping itu baik agama Islam maupun budaya Minang, kalau dilihat sebagaifenomena sosial (das sein) dewasa ini memang tidak layak dibawa ke tengah.Mengangkatnya dalam forum nasional, apalagi dalam forum internasional,ibarat menegakkan benang basah. Masyarakat Indonesia, termasuk masyarakatSumatra Barat, sudah lebih rendah kualitas sumber daya manusianya daribangsa Vietnam sekalipun. Korupsi makin membudaya di Indonesia, termasuk diSumatra Barat. Trust dan sumber daya sosial sebagai prasyarat bagikebangkitan bangsa dan suku bangsa (Fukuyama, 1995) tidak dimiliki lagi.

4. Tantangan Modernisme Global

Walaupun seminar dan pertemuan ilmiah dewasa ini punya tema dikaitkan denganmultikultural, namun modernisme masih tetap mendominasi dunia. Dengankemajuan teknologi informasi, kekuasaan ekonomi dan politik, modernismeterlebih dahulu harus disadari bahwa modernisasi berbeda dengan modern.Bangsa Indonesia, termasuk orang Minang harus menjadi bangsa dan suku bangsayang modern, tetapi tidak boleh terjerumus ke dalam modernisme. Bangsa yangmodern menghasilkan dan memanfaatkan temuan teknologi modern untukkesejahteraan hidup bangsa. Bangsa Indonesia dan orang Minang harusmenggunakan jasa pesawat terbang, mobil, satelit, internet dan kemudahanlain dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan kesejahteraan danrahmatan lil`alamin.
Kecenderungan memperhatikan hanya satu aspek kehidupan pernah digagas olehpara pemikir, seperti pandangan hidup rasionalisme, empirisme, materialisme,spiritualisme, individualisme, dan sosialisme. Dominasi salah satu aliranfilsafat tentang daya apa yang harus diutamanakan dalam memahami sesuatu diBarat mengakibatkan daya yang berasal dari luar manusia, seperti wahyu danajaran Tuhan, tidak dipercayai. Ajaran yang berasal dan wahyu yangberkembang di tengah masyarakat dianggap sebagai hanya dakwaan pembawa danalat untuk memperkokoh legitimasi. Pandangan hanya menggunakan sumber dayamanusia dan menolak segala yang berasal dari luar diri manusia berkembang diBarat dengan semangat Renaissans mulai abad ke-14 sampai dewasa ini menjadiideologi sekuler. Sekularisme yang juga diperkuat dengan materialisme danrasionalisme berkembang di seantaro dunia sampai dewasa ini.
Di kalangan masyarakat Minangkabau pandangan hidup sekuler tidak dapatditerima secara prinsip. Barat menolak memberdayakan potensi hati nuraniyang cenderung mengakui keberadaan manusia dan manusia butuh kepadabimbingan, petunjuk, dorongan semangat dan kasih sayang-Nya. Hati nuranidikenal juga dengan potensi ruh yang menurut surat as-Sajdah ayat 7-9,adalah bagian dari ruh Allah yang mampu ditiupkan-Nya kepada janin setelahfisik janin terbentuk. Karena itu mata hati mampu melihat Tuhan dankebesaran-Nya. Tetapi Barat dengan semangat renaissansnya menolak ajaranyang bersumber dari luar diri manusia tersebut. Jadilah manusia sebagaikonseptor, aktor dan tujuan kehidupan sekaligus. Renaissans adalahantroposentrisme.
Sekularisme dengan materialismenya telah mengakibatkan berbagai krisissosial dan lingkungan. Kegersangan nilai-nilai spiritual telah menjangkitmasyarakat sekuler. Berkembangnya berbagai aliran acultisme, bahkan yangtidak lagi rasional seperti The San Temples dan the People Temples dimasyarakat yang dianggap termaju di dunia, seperti Amerika, adalahkonsekwensi logis dari masyarakat yang kehilangan keyakinan dan kepercayaandalam menatap hidup yang makin kompleks ini. Gejala bunuh diri sebagaikekecewaan dan kehilangan pegangan yang sangat mendalam dalam kehidupan iniadalah fenomena sosial masyarakat maju yang sekuler itu. Runtuhnya institusikeluarga juga konsekwensi logis dari individualisme dan emansipasi yangkebablasan. Krisis ekologi dan pencemaran lingkungan adalah resiko yangharus diterima dari materialisme yang sudah lepas dari kendali agama.
Sedangkan modernisme adalah paham yang ingin berprinsip bahwa agama dannilai-niali budaya lain tidak layak lagi dipakai untuk pembangunan sosial.Manusia harus bangkit dengan kemampuan otak dan otot (fisik, materinya)dengan meninggalkan segala campur tangan lain, seperti agama, tradisi dandoktrin-doktrin lainnya dalam mengelola masyarakat. Untuk itu sekulerisme,positivisme ilmiah, ekonomi pasar bebas, demokrasi kuantitatif, liberalisme,materialisme, individualisme dan hedonisme adalah perangkat penting untukmendukung prinsip modernisme. Sebagai ideologi modemisme, ia diperjuangkanuntuk diterima di dunia dengan berbagai macam negara dan budayanya. Olehkarena itu, modernisme dikritik oleh posmodernisme sebagai ideologi yangbersifat imperialis dan kolonialis. Dengan daya otak dan materi yang kuatsehingga menjadi negara adidaya, modernisme yang dimotori oleh Amerika telahmenjadi beringas dan mengabaikan tatakrama kehidupan bersama dalam duniainternasional. Kebringasan Amerika akhir-akhir ini di lrak dan Afganistan,dan hegemoni budaya, politik, ekonomi dan ilmu pengetahuannya dinegara-negara lain adalah bukti-bukti yang menguatkan tesis yang dikemukakanoleh Huntington (1996).
Dalam era globalisasi seperti dewasa ini terlihat dominasi budaya modernismeyang dimotori oleh Amerika dengan perangkat pasar bebas, demokrasi, Hak-hakAsasi Manusia (HAM), positivisme ilmiah, sekularisme dan liberalismemoralnya. HAM berpandangan bahwa manusia tidak boleh dibedakan dalammenikmati hak-hak asasinya berdasarkan perbedaan agama, suku, suku bangsa,jenis kelamin dan warna kulit. Sedangkan agama dan adat dinilai membatasibanyak kebebasan manusia. Ini berarti bahwa arus modernisme yang bersifatkolonialisme itu tidak pluralis. Pluraisme sejalan dengan posmodernisme.Dengan lembaga internasional dan penguasaan teknologi dan komunikasi,modernisme masih dominan walau pun dalam pertemuan ilmiah dan wacanapemikiran pluralisme atau posmodernisme telah menjadi tema seminar dewasaini.
Pemikiran modernisme makin mencemaskan perkawinan antar agama dan etnisitas.Perkawinan tersebut digembar-gemborkan akan memperjauh dan HAM,demokratisasi dan inklusifisme dan akan mempersubur gerakan “teroris” yangdiperhalus dengan istilah fundamentalisme, ekslusifisme atau primordialisme.Pengalaman bangsa Indonesia yang terpecah-pecah setelah reformasi, sukuismedan agama bangkit kembali dan menimbulkan konflik berdarah yangberkepanjangan, seperti kasus Ambon, Poso, dan Kalimantan Tengah.
Postmodernisme memperjuangkan diberinya kesempatan kepada setiap budaya,ideologi, dan agama suatu masyarakat untuk mengembangkan sistem politik,ekonomi, budaya dan bahkan pengetahuan ilmiah yang sesuai dengan aspirasipolitik, ideologi, budaya dan agama masing-masing (Seidman & Wagner 1992;Lenz & Shell 1986). Maka postmodernisme mendukung multi kultural, sementaramodernisme bersifat kolonial yang dilancarkan secara halus sehingga meminjamungkapan Malik bin Nabi (1969: 206-208), bangsa terkebelakang itu pulasekarang yang bermental layak untuk dijajah, yang minta-minta untuk dijajah(al-qabiliyah li al-isti`mar), seperti selalu mengharapkan kucuran danahutang setiap tahun.
Islam dan budaya Minang jelas menentang paham sekularisme, materialisme,individualisme, hedonisme, dan liberalisme. Umat dan suku bangsa yangmemegang suatu norma moral, sistem hukum, tata kehidupan bersama, sepertitidak boleh murtad, pamer aurat, free-sex dituduh sebagai bangsa yang tidakmenghormati hal-hak asasi manusia. Hak asasi manusia diartikan sebagai hakdan kebebasan individu, sedangkan komunits tidak diberi hak untuk menentukanaturan untuk mereka sendiri.
Tetapi kehidupan manusia memang unik. Di tengah-tengah deru modernisme,individualisme, sekularisme dan bahkan materialisme itu, timbul pulakerinduan kembali kepada identitas kelompok, kepada spiritualisme dan agama.Naissbit dan Aburdene mengungkap hal ini sebagai salah satu dan megatrends(Naissbit dan Aburdene 1990). Indonesia setealah 32 tahun berada dalam rezim“asas tunggal” dan sentralisasi berubah menjadi dijangkit demampromordialisme. Etnik, kelompok, agama, daerah kembali bersuara lantang,bahkan mengakibatkan konflik berkepanjangan dengan kelompok lain. Di skalaintemasional dan Barat sendiri, pandangan modernisme yang mendesak segalayang dianggap primordialisme juga mendapat tantangan serius. Posmodernismekembali menghidupkan segala macam primordialisme. Kelompok, etnik, ideologi,agama, ras, jenis, kelamin harus mendapatkan hak untuk menghayati kehidupandengan cara pandang dan keyakinan mereka masing-masing (Seidman & Wagner1992; Lenz & Shell 1986).

5. Islam dan Budaya Minang untuk Menghadapi Tantangan Modernisme

Ajaran agama, seperti agama Islam, Kristen dan lainnya, tidak terlepas dariinterprestasi yang ditonjolkan pada suatu periode tertentu oleh pemukanya.Ajaran Calvin, misalnya dinilai oleh Weber sebagai penggerak berkembangnyaetos kerja yang menumbuhkan kapitalisme (Weber, 1958), berbeda dengan ajaranKatolik Roma zaman tengah yang dinilai sebagai penyebab keterbelakangandunia Barat. Demikian juga perkembangan Islam di zaman klasik yangmelahirkan sejumlah ilmuwan dan filusuf tentu tidak terlepas dari teologiyang ditonjolkan ketika itu, seperti teologi inklusif, bersedia menerimakebenaran dan manapun datangnya (al-Badawi, 1965). Kemunduran Islamsesudahnya mulai abad ke 13 M/8 H juga tidak terlepas dari interprestasiajaran agama yang ditonjolkan ketika itu, seperti teologi fataistis, budayasufistik, dan ketertutupan, taklid, atau ekslusif (lihat Hourani, 1962 danAmin, 1971).
Untuk meningkatkan kualitas kerja dan frofesionalisme, dakwah, studi danpendidikan agama perlu ditekankan pada teologi yang dalam ajaran Islamdinamakan dengan ihsan. Perlu diungkapkan menjadi aqidah, iman, keyakinanatau teologi, yaitu bahwa bekerja dengan kualitas baik, teliti, bagus,berdaya guna lebih luas harus dimasyarakatkan sehingga menjadi aqidah,teologi atau komitmen setiap pribadi Muslim. Kemudian keyakinan keagamaankepada makhluk gaib, akhirat dan lain-lainnya perlu dikembangkan denganparadigma untuk meningkatkan kualitas amal dan karya di dunia ini, untukmewujudkan rahmatan lil`alamin.
Pengertian dan konsep amal yang masih banyak dianggap sebagai kegiatanritual dan sedekah amal harus ditingkatkan dalam pengertian segenapaktivitas sosio-kultural yang positif dan lainnya (pahalanya) terletak padatinggi rendahnya kualitas kerja yang tergantung padanya kekuatan umat,seperti hukum, politik, ekonomi, teknologi dan seterusnya. Kemudiankedudukannya berubah menjadi kewajiban pribadi (fardhu `ain) bagi yang telahmemilih salah satunya sebagai profesi dan bidang tugasnya. Konsep-konseptersebut adalah contoh-contoh yang memerlukan penggarapan baik olehmasyarakat, seperti melalui media massa, gerakan dakwah, maupun melaluipolitical will, seperti beasiswa untuk studi teologi, alokasi danapendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang memadai untuktujuan tersebut.
Efek lain dari kemajuan teknologi dan pesatnya kegiatan ekonorni danproduksi adalah bahwa manusia merasa dirinya hanya bagian atau bahkanpelayan dari mesin-mesin. Hubungan persaudaraan dan kekeluargaan antara satusama lain semakin tipis karena telah diperenteng oleh alat komunikasicanggih. Manusia merasa kehilangan jatidirinya sebagai makhluk yang kreatif,punya harga diri, berarti, dan makin tidak merasakan hubungan sosial yangikhlas. Manusia modern hidup teralienasi, mengidap anomali atau anomi.Keberingasan massa, terorisme, kriminalitas, menjadi pecandu obat bius danekstasi, menjamurnya kelompok meditasi dan ajaran “agama” yang aneh-aneh(cults), adalah konsekwensi dari manusia yang telah kehilangan jatidiri dannilai-nilai spiritual. Karena kegersangan spiritual ini Naisbitt danAbuderne (1990: 270-297) meramalkan bahwa abad 21 juga merupakan abadkebangkitan agama, atau lebih tepat dikatakan dengan kebangkitan kelompokspiritual.
Maka agama tetap dibutuhkan oleh masyarakat era globalsasi dan industriuntuk dapat memberikan siraman dan melestarikan hubungan sosial. RogerGaraudy (1985), dari perjalanan hidup dan pemahamannya terhadap pemikiran diEropa sebagai seorang yang pernah aktif dalam partai Komunis Prancis danguru besar filsafat, berkesimpulan bahwa permasalahan manusia modern adalahputusnya hubungan dengan yang transendental dan hubungan sosial dan Islamlahyang mampu memberikan jalan keluar dari permasalahan tersebut.
Kemudian ciri lain dari masyarakat dunia dewasa ini adalah bahwa merekamengkonsumsi sajian media komunikasi yang bermacam ragam. Dengan media cetakdan elektronik modern berbagai nilai, pendapat, gagasan, perilaku dan gayahidup, disuguhkan dari segenap penjuru dunia tanpa batas. Dampak kemajuanmedia komunikasi ini jelas berpengaruh terhadap keyakinan dan ajaran agamayang selama ini atau seharusnya diyakini. Kemajuan media cetak danelektronik ini mengakibatkan tumbunya relativisme nilai budaya dan agama.Tidak adanya nilai dan hal-hal yang dipercayai dalam kehidupan seseorangmenjadikan hidup dalam kebingungan, goncang, tidak ada pegangan, dangelisah. Kalau gejala ini telah menimpa sebagian besar anggota masyarakat,masyarakat tersebut sudah rapuh, goyah atau keropos. Gejala banyak anggotamasyarakat yang mengikuti berbagai macam aliran kebatinan, meditasi,pengobatan alternatif, berbagai cults, baik di Timur ataupun Barat sepertiyang telah disinggung di atas menunjukkan bahwa manusia pada dasarnyamembutuhkan keyakinan keagamaan dan nilai-nilai budaya luhur.
Oleh karena salah satu ciri beragama adalah bahwa nilai dan ajarannyadipercayai sebagai mutlak benar, maka memupuk keyakinan beragama setelahdiadakan penafsiran yang dapat menjawab tantangan zaman dengan berbagaimacam pendekatan dakwah dan pendidikan adalah salah satu cara untukmenyelamatkan manusia yang sudah kehilangan pegangan hidup akibat telahdigoncang oleh suguhan media kommikasi modern yang kontradiktif.
Masalah yang menjangkiti masyarakat modern yang rasional ini adalah mengidapstres. Stres menjangkiti kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja, dimasyarakat, dan di rumah tangga. Kegagalan dalam mencapai banyak hal jugamengakibatkan stres. Konflik antar individu dan antar kelompok jugamengakibatkan stres. Stres juga menurunkan kondisi kesehatan fisik. Tetapidengan iman kepada takdir Allah terhadap segala yang telah dialami membantuuntuk tidak terlalu stres menghadapi hambatan, konflik dan kegagalan. Denganiman kepada takdir yang diajarkan Islam, kita juga tidak terlalu cemasmenghadapi masa depan dan siap mental menghadapi segala macam resiko.

6. Kesimpulan

Kehidupan yang didominasi modernisme menimbulkan berbagai macam persoalansosial, nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan. Manusia membutuhkan materi,kepuasan spiritual, perhatian, ketenangan, penjelasan rasional, keyakinandan kepastian hidup, kiat menghadapi persoalan dan kegagalan, hubungansosial yang baik dengan sesama manusia, serta hubungan dengan Tuhan. Tidakterisinya salah satu dan hubungan tersebut akan mengakibatkan timbulnyaberbagai masalah dalam kehidupan. Pandangan modernisme tentang kehidupancenderung mementingkan salah satu atau beberapa saja dan kebutuhan tersebutdan mengabaikan yang lain.
Maka sumber permasalahan adalah bahwa manusia modern tidak memiliki suatukeyakinan dan pandangan hidup yang dapat mengisi kebutuhan tersebut. Makaagama yang belum terlalu direduksi oleh pandangan manusia, serta budaya yangbiasa dianggap tradisional, seperti budaya Minang, tetap diperlukan dalamkehidupan modern karena masih punya dimensi-dimensi yang diperlukan dalamkehidupan manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa coment ya

FILE Mas Amin

Entri Populer