Jumat, 09 Juli 2010

Menjadikan Siswa Bermartabat Melalui Pendidikan

Minang adalah salah satu suku dari sekian banyak suku yang ada di Indonesia. Seperti yang banyak disebut orang bahwa Padang-lah asal orang Minang. Yang orang mengenalnya dengan adanya sebutan uda dan uni. Uda untuk saudara laki-laki, dan uni untuk saudara perempuan. Orang Minang ini, adalah orang yang kaya dengan aneka ragam rahmat Tuhan. Kita lihat saja daerahnya. Daerah Sumbar begitu kaya. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada alam ini. Insan Minang pun, cerdas dan berhati baik. Sesuai dengan program pemerintah, anak Indonesia harus mengikuti wajib belajar 9 tahun. Untuk mendukung program pemerintah itu, maka anak-anak Minang berkesempatan untuk berpendidikan dan juga berpeluang untuk berhasil.

Berangkat kita dari sebuah fakta. Di Kabupaten Tanah Datar, ada sebuah SMP, yaitu SMP Negeri 5 Batusangkar. SMP Negeri 5 ini, berdiri pada tahun 2004. Tapi, dulu namanya bukan SMP Negeri 5, melainkan SMP Negeri Unggul Kabupaten Tanah Datar. Syukur alhamdulillah, SMP yang baru lahir ini, dapat mengharumkan nama Tanah Datar, bahkan nama Sumbar. Salah satu murid dari angkatan pertama, bernama Andri Rahmat Wijaya, telah berhasil melanjutkan sekolahnya di SMA Kharisma Bangsa Jakarta. Dalam kesehariannya semasa SMP, Andri adalah seorang anak yang cerdas. Dulu, waktu SMP bidang olimpiade yang diikutinya adalah Matematika. Andri terkenal jago Matematika oleh teman-temannya. Kenapa tidak? Karena keunggulannya di Matematika lah dia dapat bersekolah di SMA Kharisma Bangsa itu. Ini tentu, menjadi suatu kebanggaan bagi keluarganya pada khususnya. Dan juga merupakan suatu kebanggaan bagi Sumbar.

Sebenarnya, cara tiap orang untuk sukses itu, tidak sama. Jika Andri dapat sukses dan membanggakan Sumbar dengan cara itu, belum tentu kita pun dapat sukses dengan cara itu. Namun, seorang Andri dapat kita jadikan sebagai motivator untuk terus maju. Darinya, kita dapat belajar tentang arti dari sebuah ketekunan dan kesungguhan. Untuk sukses, kita tinggal mengasah dan mengembangkan kemampuan yang telah kita miliki.

Andri adalah sosok seorang siswa yang berprestasi. Anak-anak Minang, sangat berperan dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, khususnya di Sumbar. Andri adalah sebuah contoh nyata yang dapat dilihat oleh mata. Namun, ada peran siswa yang tidak terlihat langsung, namun sangat berpengaruh dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. Itu adalah semangat dan cita-cita yang telah tertanam pada jiwa tiap siswa. Hati itu, akan setia kepada yang benar. Menuntut ilmu, adalah pekerjaan yang mulia. Jiwa kita, akan membutuhkan ilmu demi kesuksesan di masa mendatang. Sebenarnya, tanpa kita sadari, kita telah ikut campur tangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Keinginan siswa untuk menjadi juara kelas, merupakan hal yang umum. Namun, dengan adanya keinginan maka ada pulalah semangat. Siswa akan aktif, jika jiwanya bersemangat. Setidaknya, siswa akan melakukan apa yang mereka senangi. Dan sekolah, merupakan lembaga pendidik. Bibit unggul pada diri tiap siswa, akan disalurkan dan dikembangkan sehingga menjadi sesuatu yang dapat membanggakan.

Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari data-data yang telah diperoleh. Jika dapat dipermudah, kita lihat saja angka pengangguran. Tapi, banyak kita lihat bahwa yang menganggur itu, adalah kebanyakan dari kalangan sarjana. Ini merupakan suatu tanda tanya besar bagi kita. Mudah-mudahan saja, dengan niat yang tulus dan ikhlas, angka pengangguran itu dapat kita tekan segepeng mungkin melalui peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.

Aktif. Kata itu memiliki banyak makna. Sebagai seorang siswa, aktif adalah kunci baginya untuk semakin dekat pada pintu cita-cita. Siswa harus aktif dalam belajar, aktif untuk selalu mencoba, aktif untuk mengaplikasikan, dan juga aktif untuk berbagi ilmu dengan saudaranya. Sebagai siswa, yang tidak boleh ada adalah kata diam dan malas. Jangan pernah berhenti untuk mencoba dan berusaha. Tidak ada orang yang langsung sukses dengan satu kali usaha. Namun, akan melalui tikungan-tikungan tajam, dan tak sesekali akan terpeleset dan jatuh. Hal itu, biasa dalam hidup dan kehidupan. Malahan, hal-hal itulah yang akan menjadikan kita pribadi yang lebih unggul di masa mendatang.

Ada satu fakta lagi. Masih dari SMP Negeri 5 Batusangkar. Ada seorang siswa yang telah berhasil mendapatkan medali emas untuk pertama kalinya bagi Sumbar. Anak itu, biasa dipanggil Sasa oleh teman-temannya. Medali emas itu ia dapatkan, pada lomba Biologi tingkat Nasional. Begitu bangganya SMP Negeri 5, karena siswanya yang cerdas. Sumbar pun, telah dicengangkan oleh Sasa. Begitu besar rahmat Tuhan bagi Sumbar, khususnya bagi anak-anak Minang.

Sasa, adalah satu sosok yang dapat dijadikan pelajaran berharga. Walaupun Sasa waktu itu masih kelas 2 SMP, tapi pelajarannya sudah pelajaran mahasiswa S2. Itu, tidaklah Guru yang mengajarkan sepenuhnya. Namun, dialah yang mencari sendiri dan menemukan sendiri. Semangat Sasa ini, patut kita tiru. Zaman ini, tidak ada lagi siswa yang menunggu diberi oleh Guru. Jika masih ada siswa di zaman ini yang menanti diajarkan oleh Guru, berarti siswa itu, masih jadul (jaman dulu). Padahal, zaman ini kita semua harus up to date, agar tidak terlindas oleh zaman. Tentunya kita up to date dalam hal yang sesuai dengan prinsip kita masing-masing. Sebenarnya, dunia pendidikan membutuhkan Sasa-Sasa baru yang akan dapat meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di Sumbar.

Peran aktif siswa dalam peningkatan mutu pendidikan harus dilandasi dengan kejujuran. Jangan sampai, lembaga pendidikan yang tujuannya adalah untuk mendidik, menciptakan generasi pembohong. Tidak hanya bidang akademik yang harus dipertajam. Namun, yang sebenarnya sangat penting, sering dinomorsekiankan. Itulah dia, pendidikan jiwa. Sekali lagi, hati akan setia kepada yang benar. Pendidikan akan berpengaruh pada kehidupan, jika dalam menjalani pendidikan itu, kita mendengarkan bisikan jiwa yang tak pernah salah. Contoh kecil berdampak besar, adalah ketika siswa mengikuti ujian. Meminta jawaban dan memberikan jawaban adalah hal yang tak lupa dilakukan para siswa saat ujian. Begitu banyak alasan yang dikemukakan mengapa siswa bisa berbuat demikian. Sebenarnya, perbuatan itu tidak baik untuk membangun negara yang hebat. Mungkin saja, karena itulah banyak lahir koruptor-koruptor yang tak bertanggung jawab. Kita tentu tak ingin, kondisi ini berlanjut. Jika kondisi ini terus berlanjut, akan lebih banyak lagi perguruan tinggi yang melahirkan penganggur. Karena, sesuatu yang diawali dengan ketidakjujuran, tidak akan pernah berujung dengan kebahagiaan. Karena, Tuhan tidak pernah ridho pada yang bohong.

Untuk itu, agar pendidikan dapat berdampak bagi perbaikan negara, maka jangan pernah dekati yang tak baik, karena sekali lagi hati akan setia kepada yang benar. Jika kita dekati yang tidak benar, maka kita telah mendustai hati. Jangan pernah rusak segumpal daging yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Jagalah daging itu, peliharalah dia. Mudah-mudahan dengan upaya kita bersama, khususnya anak-anak Minang, dengan niat baik dan semangat yang kita miliki, marilah kita tingkatkan mutu pendidikan, agar terlahir manusia Indonesia yang berhati baik, dan cinta pada negaranya. Amin. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa coment ya